SEJARAH AL
QURAN
|
Apakah itu
al-Quran.
|
|
·
"Quran" menurut
pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih bererti
"bacaan", asal kata qara’a. Kata Al Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim
maf’ul yaitu maqru’ (dibaca).
·
Di
dalam Al Qur’an sendiri ada pemakaian kata "Qur’an" dalam arti demikian sebagal
tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah:
Artinya:
·
‘Sesungguhnya
mengumpulkan Al Qur’an (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada
lidahmu) itu adalah tanggunggan kami. kerana itu jika kami telah membacakannya,
hendaklah kamu ikut bacaannya".
Kemudian dipakai kata "Qur’an" itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini.
Adapun definisi Al
Qur’an ialah: "Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan
(diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan
dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah"
Dengan definisi ini,
kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak
dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau
Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai
ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.
|
|
Bagaimanakah
al-Quran itu diwahyukan.
|
|
·
Nabi Muhammad s.a.w.
dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan. di
antaranya:
1, Malaikat memasukkan
wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu
apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai
hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah
(42) Asy Syuura ayat (51).
2. Malaikat
menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan
kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata
itu.
3. Wahyu datang
kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan
oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya
wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa
berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau
sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis
wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya
wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran
seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali
seperti biasa".
·
4.
Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti
keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut
dalam Al Qur’an surah (53) An Najm ayat 13 dan 14.
Artinya:
·
Sesungguhnya Muhammad
telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di
Sidratulmuntaha.
|
|
Hikmah diturunkan
al-Quran secara beransur-ansur
|
|
Al Qur’an diturunkan
secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13
tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al Qur’an diturunkan secara
beransur-ansur itu ialah:
1. Agar lebih mudah
difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan
sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini
disebutkan oleh Bukhari dan riwayat ‘Aisyah r.a.
2. Di antara ayat-ayat
itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu
itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus. (ini
menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
3. Turunnya sesuatu
ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan
lebih berpengaruh di hati.
4. Memudahkan
penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak
diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an ayat (25) Al Furqaan
ayat 32, yaitu:
·
mengapakah Al Qur’an
tidak diturunkan kepadanya sekaligus
·
Kemudian dijawab di
dalam ayat itu sendiri:
·
demikianlah, dengan
(cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu
5. Di antara ayat-ayat
ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat
atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh lbnu ‘Abbas r.a. Hal ini tidak dapat
terlaksana kalau Al Qur’an diturunkan sekaligus.
|
|
Ayat Makkiyah dan
ayat Madaniyah
|
|
·
Ditinjau dari segi
masa turunnya, maka Al Qur’an itu dibahagi atas dua golongan:
1. Ayat-ayat yang
diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah
dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
2. Ayat-ayat yang
diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah
dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah
meliputi 19/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 86 surah, sedang ayat-ayat
Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 28 surah.
Perbezaan ayat-ayat
Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah:
1. Ayat-ayat Makkiyyah
pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surat
Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1,456,
sedang ayat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Qur’an jumlah
ayat-ayatnya 4,780 ayat.
Juz 28 seluruhnya
Madaniyyah kecuali ayat (60) Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz
29 ialah Makkiyyah kecuali ayat (76) Addahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat
Al Anfaal dan surat Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi
yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua
Makiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
2. Dalam ayat-ayat
Madaniyyah terdapat perkataan "Ya ayyuhalladzi na aamanu" dan sedikit sekali
terdapat perkataan ‘Yaa ayyuhannaas’, sedang dalam ayat ayat Makiyyah adalah
sebaliknya.
3. Ayat-ayat Makkiyyah
pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan
pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi
pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan
hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketata
negaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antara agama dan
lain-lain.
|
|
Nama-nama
al-Quran
|
|
Allah memberi nama
Kitab-Nya dengan Al Qur’an yang berarti "bacaan".
·
Arti ini dapat kita
lihat dalam surat (75) Al Qiyaamah; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas.
Nama ini dikuatkan
oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat (17) Al lsraa’ ayat 88; surat (2) Al
Baqarah ayat 85; surat (15) Al Hijr ayat 87; surat (20) Thaaha ayat 2; surat
(27) An Naml ayat 6; surat (46) Ahqaaf ayat 29; surat (56) Al Waaqi’ah ayat 77;
surat (59) Al Hasyr ayat 21 dan surat (76) Addahr ayat 23.
Menurut pengertian
ayat-ayat di atas Al Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
·
Selain Al Qur’an,
Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, sepcrti:
1. Al Kitab atau
Kitaabullah: merupakan synonim dari perkataan Al Qur’an, sebagaimana tersebut
dalam surat (2) Al Baqarah ayat 2 yang artinya; "Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya…." Lihat pula surat (6) Al An’aam ayat 114.
·
2.
Al Furqaan: "Al Furqaan" artinya: "Pembeda", ialah "yang membedakan yang benar
dan yang batil", sebagai tersebut dalam surat (25) Al Furqaan ayat 1 yang
artinya: "Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya,
agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam"
3. Adz-Dzikir.
Artinya: "Peringatan". sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al Hijr ayat 9
yang artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan "Adz-Dzikir dan sesungguhnya
Kamilah penjaga-nya" (Lihat pula surat (16) An Nahl ayat 44. Dari nama yang tiga
tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah "Al Qur’an".
Selain dari nama-nama yang tiga itu dan lagi beberapa nama bagi Al Qur’an. lmam
As Suyuthy dalam kitabnya Al Itqan, menyebutkan nama-nama Al Qur’an,
diantaranya: Al Mubiin, Al Kariim, Al Kalam, An Nuur.
|
|
Surah-surah dalam
al-Quran
|
|
Jumlah surat yang
terdapat dalam Al Qur’an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat,
susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh
Rasulullah sendiri (tauqifi).
Sebagian dari
surat-surat Al Qur’an mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih
dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap
surat.
·
Surat-surat yang ada
dalam Al Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian,
yaitu:
1.
ASSAB’UTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat yang panjang Yaitu: Al Baqarah, Ali
Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
2. Al MIUUN,
dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud,
Yusuf, Mu’min dsb.
3. Al MATSAANI,
dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al
Anfaal. Al Hijr dsb.
4. AL MUFASHSHAL,
dimaksudkan surat-surat pendek. seperti: Adhdhuha, Al Ikhlas, AL Falaq, An Nas.
dsb.
g. Huruf-huruf
Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat.
·
Di
dalam Al Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah
yaitu pada surat-surat:
(1) Al Baqarah, (2)
Ali Imran, (3) Al A’raaf. (4) Yunus, (5) Yusuf, (7) Ar Ra’ad, (8) lbrahim, (9)
Al Hijr, (10) Maryam. (11) Thaaha. (12) Asy Syu’araa, (13) An Naml, (14) Al
Qashash, (15) A1’Ankabuut, (16) Ar Ruum. (17) Lukman, (18) As Sajdah (19) Yasin,
(20) Shaad, (21) Al Mu’min, (22) Fushshilat, (23) Asy Syuuraa. (24) Az Zukhruf
(25) Ad Dukhaan, (26) Al Jaatsiyah, (27) Al Ahqaaf. (28) Qaaf dan (29) Al Qalam
(Nuun).
Huruf-huruf hijaaiyyah
yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan
‘Fawaatihushshuwar’ artinya pembukaan surat-surat.
Banyak pendapat
dikemukakan oleh para Ulama’ Tafsir tentang arti dan
|
SEJARAH AL
QURAN
|
Apakah itu
al-Quran.
|
|
·
"Quran" menurut
pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih bererti
"bacaan", asal kata qara’a. Kata Al Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim
maf’ul yaitu maqru’ (dibaca).
·
Di
dalam Al Qur’an sendiri ada pemakaian kata "Qur’an" dalam arti demikian sebagal
tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah:
Artinya:
·
‘Sesungguhnya
mengumpulkan Al Qur’an (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada
lidahmu) itu adalah tanggunggan kami. kerana itu jika kami telah membacakannya,
hendaklah kamu ikut bacaannya".
Kemudian dipakai kata "Qur’an" itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini.
Adapun definisi Al
Qur’an ialah: "Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan
(diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan
dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah"
Dengan definisi ini,
kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak
dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau
Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai
ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.
|
|
Bagaimanakah
al-Quran itu diwahyukan.
|
|
·
Nabi Muhammad s.a.w.
dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan. di
antaranya:
1, Malaikat memasukkan
wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu
apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai
hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah
(42) Asy Syuura ayat (51).
2. Malaikat
menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan
kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata
itu.
3. Wahyu datang
kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan
oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya
wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa
berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau
sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis
wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya
wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran
seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali
seperti biasa".
·
4.
Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti
keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut
dalam Al Qur’an surah (53) An Najm ayat 13 dan 14.
Artinya:
·
Sesungguhnya Muhammad
telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di
Sidratulmuntaha.
|
|
Hikmah diturunkan
al-Quran secara beransur-ansur
|
|
Al Qur’an diturunkan
secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13
tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al Qur’an diturunkan secara
beransur-ansur itu ialah:
1. Agar lebih mudah
difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan
sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini
disebutkan oleh Bukhari dan riwayat ‘Aisyah r.a.
2. Di antara ayat-ayat
itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu
itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus. (ini
menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
3. Turunnya sesuatu
ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan
lebih berpengaruh di hati.
4. Memudahkan
penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak
diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an ayat (25) Al Furqaan
ayat 32, yaitu:
·
mengapakah Al Qur’an
tidak diturunkan kepadanya sekaligus
·
Kemudian dijawab di
dalam ayat itu sendiri:
·
demikianlah, dengan
(cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu
5. Di antara ayat-ayat
ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat
atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh lbnu ‘Abbas r.a. Hal ini tidak dapat
terlaksana kalau Al Qur’an diturunkan sekaligus.
|
|
Ayat Makkiyah dan
ayat Madaniyah
|
|
·
Ditinjau dari segi
masa turunnya, maka Al Qur’an itu dibahagi atas dua golongan:
1. Ayat-ayat yang
diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah
dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
2. Ayat-ayat yang
diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah
dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah
meliputi 19/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 86 surah, sedang ayat-ayat
Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 28 surah.
Perbezaan ayat-ayat
Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah:
1. Ayat-ayat Makkiyyah
pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surat
Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1,456,
sedang ayat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Qur’an jumlah
ayat-ayatnya 4,780 ayat.
Juz 28 seluruhnya
Madaniyyah kecuali ayat (60) Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz
29 ialah Makkiyyah kecuali ayat (76) Addahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat
Al Anfaal dan surat Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi
yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua
Makiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
2. Dalam ayat-ayat
Madaniyyah terdapat perkataan "Ya ayyuhalladzi na aamanu" dan sedikit sekali
terdapat perkataan ‘Yaa ayyuhannaas’, sedang dalam ayat ayat Makiyyah adalah
sebaliknya.
3. Ayat-ayat Makkiyyah
pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan
pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi
pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan
hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketata
negaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antara agama dan
lain-lain.
|
|
Nama-nama
al-Quran
|
|
Allah memberi nama
Kitab-Nya dengan Al Qur’an yang berarti "bacaan".
·
Arti ini dapat kita
lihat dalam surat (75) Al Qiyaamah; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas.
Nama ini dikuatkan
oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat (17) Al lsraa’ ayat 88; surat (2) Al
Baqarah ayat 85; surat (15) Al Hijr ayat 87; surat (20) Thaaha ayat 2; surat
(27) An Naml ayat 6; surat (46) Ahqaaf ayat 29; surat (56) Al Waaqi’ah ayat 77;
surat (59) Al Hasyr ayat 21 dan surat (76) Addahr ayat 23.
Menurut pengertian
ayat-ayat di atas Al Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
·
Selain Al Qur’an,
Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, sepcrti:
1. Al Kitab atau
Kitaabullah: merupakan synonim dari perkataan Al Qur’an, sebagaimana tersebut
dalam surat (2) Al Baqarah ayat 2 yang artinya; "Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya…." Lihat pula surat (6) Al An’aam ayat 114.
·
2.
Al Furqaan: "Al Furqaan" artinya: "Pembeda", ialah "yang membedakan yang benar
dan yang batil", sebagai tersebut dalam surat (25) Al Furqaan ayat 1 yang
artinya: "Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya,
agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam"
3. Adz-Dzikir.
Artinya: "Peringatan". sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al Hijr ayat 9
yang artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan "Adz-Dzikir dan sesungguhnya
Kamilah penjaga-nya" (Lihat pula surat (16) An Nahl ayat 44. Dari nama yang tiga
tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah "Al Qur’an".
Selain dari nama-nama yang tiga itu dan lagi beberapa nama bagi Al Qur’an. lmam
As Suyuthy dalam kitabnya Al Itqan, menyebutkan nama-nama Al Qur’an,
diantaranya: Al Mubiin, Al Kariim, Al Kalam, An Nuur.
|
|
Surah-surah dalam
al-Quran
|
|
Jumlah surat yang
terdapat dalam Al Qur’an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat,
susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh
Rasulullah sendiri (tauqifi).
Sebagian dari
surat-surat Al Qur’an mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih
dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap
surat.
·
Surat-surat yang ada
dalam Al Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian,
yaitu:
1.
ASSAB’UTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat yang panjang Yaitu: Al Baqarah, Ali
Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
2. Al MIUUN,
dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud,
Yusuf, Mu’min dsb.
3. Al MATSAANI,
dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al
Anfaal. Al Hijr dsb.
4. AL MUFASHSHAL,
dimaksudkan surat-surat pendek. seperti: Adhdhuha, Al Ikhlas, AL Falaq, An Nas.
dsb.
g. Huruf-huruf
Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat.
·
Di
dalam Al Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah
yaitu pada surat-surat:
(1) Al Baqarah, (2)
Ali Imran, (3) Al A’raaf. (4) Yunus, (5) Yusuf, (7) Ar Ra’ad, (8) lbrahim, (9)
Al Hijr, (10) Maryam. (11) Thaaha. (12) Asy Syu’araa, (13) An Naml, (14) Al
Qashash, (15) A1’Ankabuut, (16) Ar Ruum. (17) Lukman, (18) As Sajdah (19) Yasin,
(20) Shaad, (21) Al Mu’min, (22) Fushshilat, (23) Asy Syuuraa. (24) Az Zukhruf
(25) Ad Dukhaan, (26) Al Jaatsiyah, (27) Al Ahqaaf. (28) Qaaf dan (29) Al Qalam
(Nuun).
Huruf-huruf hijaaiyyah
yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan
‘Fawaatihushshuwar’ artinya pembukaan surat-surat.
Banyak pendapat
dikemukakan oleh para Ulama’ Tafsir tentang arti dan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar